Mengenal Benda Filateli dan Sinerginya dengan Literasi

Hobi filateli di tahun 90-an sampai akhir 90-an sempat menjadi booming di kalangan anak-anak remaja dan sekolahan. Saya ingat dulu ketika orang-orang dari kantor pos di kota saya datang untuk memberikan penjelasan ke sekolah-sekolah dengan ide yang sangat menarik tentang dunia filateli, yakni hobi mengumpulkan benda-benda pos seperti prangko dan lainnya. Sebagai anak sekolahan saat itu, tentu saya menjadi ikut terpesona dengan aneka prangko yang unik dan cantik. Bahkan, kami diiming-imingi jika berhasil mengoleksi prangko yang unik dan langka, bisa saja suatu saat dijual dengan harga mahal. Remaja mana yang tak tertarik dengan penghasilan tambahan? Jadilah kami bersemangat untuk mengumpulkan prangko.

Pada masanya, prangko memang sempat menjadi primadona dalam berkirim surat dan kartu. Mau yang harga berapa dan tema apa, pelanggan tinggal memilih. Ada pojok tersendiri bagi dunia filatelis di sudut kantor pos kala itu. Pengunjung dapat melihat display aneka benda pos sebagai pengetahuan baru. Saya, sebagai pemula dalam filateli, dulu sangat rajin mengumpulkan prangko dari amplop-amplop bekas surat kiriman. Dari kantor ibu saya, kantor nenek saya, juga surat-surat pribadi milik saya bahkan teman-teman tak luput dari todongan saya demi mengumpulkan benda-benda pos.

Usia kita bertambah, dunia pun semakin pesat berkembang. Kini, aktivitas surat-menyurat jarak jauh tak lagi berbatas jarak. Surat elektronik berhasil menembus batas hingga ke ujung dunia. Aneka aplikasi chat juga tidak mau kalah saing. Orang-orang kini bisa menikmati komunikasi jarak jauh hanya dengan sentuhan jari di genggaman. Inovasi-inovasi teknologi ini kemudian membuat surat konvensional menjadi terpinggirkan. Nasib prangko? Sudah pasti tidak sepopuler dulu. Hanya para penghobi filateli barangkali yang masih setia dengannya.

Mungkin umumnya anak-anak sekarang, terutama yang lahir di tahun 2000-an, jika kita tanya tentang prangko, tak banyak yang bisa dikemukakannya kecuali orangtuanya pernah mengenalkan prangko lebih jauh. Padahal kalau dieksplorasi lebih dalam, sebenarnya, kegiatan filateli ini sangatlah memungkinkan bersinergi dengan dunia literasi dan merupakan kegiatan yang sangat positif dan mengasyikkan bagi generasi muda.

Literasi pada prinsipnya tidak terbatas hanya pada bacaan buku semata, tetapi juga aneka dokumen dan arsip, termasuk benda filateli yang banyak memuat wawasan. Ada banyak benda filateli yang bisa dieksplorasi, tetapi saya hanya akan membahas beberapa benda filateli berikut ini yang umumnya lebih populer dan banyak dikoleksi oleh para penghobi, seperti Prangko, Sampul Hari Pertama atau First Day Cover/First Day of Issue, Carik Kenangan atau Souvenir Sheet, Sampul Peringatan atau Commemorative Cover, dan Kartu Pos.

Saya bukan filatelis yang spesialis mengoleksi benda atau tema tertentu. Tetapi kebetulan saya hobi mengoleksi beberapa di antaranya untuk dijadikan display dan bahan literasi di perpustakaan pribadi. Meskipun sudah bertahun-tahun saya tidak menambah koleksi saya, sehingga benda filateli 10 tahun terakhir ini sangat sedikit saya koleksi, bahkan hampir tidak ada, tetapi sebagian kecil koleksi yang ada sejauh ini benar-benar bermanfaat karena bisa menjadi bahan belajar saya sendiri dan juga orang lain. Seperti apa sinergi antara literasi dan filateli?

Prangko

Prangko merupakan kertas bergambar dan berperekat sebagai bukti pembayaran atas jasa layanan pos, misalnya mengirim surat atau kartu pos. Prangko pertama di dunia adalah terbitan Britania Raya tahun 1840. Saat ini, prangko sudah kurang diminati untuk dipakai berkirim surat atau dokumen sejak layanan pos menyediakan paket pos kilat atau khusus dengan tarif yang cukup terjangkau. Ekspedisi pengiriman selain pos juga semakin banyak dengan layanan promo yang lambat laun cukup efektif menyingkirkan penggunaan prangko.

prangko bekas tema flora fauna

prangko bekas tema flora fauna (dok. pribadi)

Di dalam prangko tercantum tahun terbit dan harga. Biasanya prangko diterbitkan berdasarkan banyak tema dan kategori. Ada tema flora dan fauna, budaya, adat, hari peringatan, hari besar, isu sosial, hari-hari khusus, makanan tradisional, science, dan sebagainya. Dan ini diterbitkan setiap tahunnya oleh pihak pos. Terkadang, satu tema bisa kita kelompokkan menjadi sub tema tertentu, misalnya Science dibagi lagi menjadi tata surya dan benda angkasa, atau Fauna dibagi menjadi unggas, mamalia, dan ikan. Kita bebas membuat kelompok koleksi kita sendiri.

Dari prangko-prangko tersebut, kita bisa menggali dari banyak sisi. Misalnya waktu terbit, tahun berapa prangko tersebut diterbitkan? Ada isu atau momen apa pada tahun terbitnya? Contoh lain dari sisi tema, misalnya hewan langka. Apa saja hewan langka yang ada di prangko, bagaimana cara hidupnya, makanannya, habitatnya, dan banyak lagi. Bayangkan ada berapa banyak ide yang bisa digali untuk sumber literasi? Kita bisa menuliskan ulasan atau ide-ide yang kita gali dari prangko tersebut, kemudian dikumpulkan menjadi satu kliping, lengkapi dengan gambar-gambar. Bukankah ini suatu aktivitas yang menyenangkan?

Sampul Hari Pertama (SHP)

Sampul Hari Pertama, atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan istilah First Day of Issue, ada juga yang menyebutkan First Day Cover, adalah amplop atau sampul yang diterbitkan bersamaan dengan terbitnya prangko baru. Amplop ini bergambar tema sesuai prangko yang diterbitkan dan ditempeli prangko tersebut. Ada bubuhan cap bertuliskan Hari Pertama Terbit dan umumnya dicetak terbatas. Ada juga yang berbentuk dokumen, bukan amplop maupun sampul.

contoh sampul hari pertama, bertema makanan tradisional

contoh sampul hari pertama, bertema makanan tradisional (dok. pribadi)

contoh sampul hari pertama bentuk dokumen, bukan amplop

contoh sampul hari pertama bentuk dokumen, bukan amplop (dok. pribadi)

SHP bisa digali dari sisi temanya seperti prangko. Bisa juga menggali alasan mengapa diterbitkan, apakah ada kaitannya dengan isu atau program pemerintah pada saat itu, dll. SHP juga bisa dijadikan contoh atau alat peraga bagi anak-anak bagaimana cara membubuhkan prangko pada amplop yang akan kita kirim.

Sampul Peringatan (SP)

Hampir mirip dengan SHP, Sampul Peringatan juga berupa amplop atau sampul yang ditempeli prangko, tetapi khusus untuk memperingati suatu peristiwa atau isu yang dianggap penting. Berbeda dengan SHP yang hanya diterbitkan oleh PT. Pos Indonesia, sampul peringatan bisa diterbitkan oleh siapa saja seperti perorangan atau organisasi. Kita bisa menggali peringatan atau isu yang diangkat di SP dan hal-hal yang berkaitan di dalamnya. Misalnya SP dari Habibie Center tentang kegiatan inagurasi dan kolokium, SP dari persatuan filateli Indonesia tentang pameran dan kongres filateli, dan lain sebagainya.

contoh sampul peringatan

contoh sampul peringatan (dok. pribadi)

Carik Kenangan

Carik Kenangan atau Souvenir Sheet merupakan selembar kertas dengan prangko di dalamnya. Berukuran lebih besar dari prangko dan pinggirnya tidak bergerigi. Umumnya digunakan bukan untuk ditempel di amplop, melainkan sebagai bahan koleksi filatelis. Semacam souvenir.

Carik kenangan

Carik kenangan (dok. pribadi)

carik kenangan

dok. pribadi

Benda pos lainnya yang bisa dikumpulkan adalah kartu pos, warkat pos, carik, sampul penerbangan pertama, dan banyak lagi benda filateli yang bisa dijadikan pilihan.

kartu pos (dok. pribadi)

kartu pos (dok. pribadi)

Mengeksplorasi benda filateli sebagai bahan aktivitas literasi sangatlah mengasyikkan, bahkan bisa juga dijadikan satu buku, jika mau. Mengenal benda-benda filateli dan mengumpulkannya juga dapat membantu perkembangan kepribadian seseorang. Perlakuan kita terhadap benda-benda filateli tersebut lambat laun akan melatih kita menjadi teliti, bersih, sabar dan karakter positif lainnya, sebab untuk membersihkan prangko bekas dari amplopnya, kita butuh ketelitian dan kesabaran dalam memisahkan perekat dengan kertas, juga kesabaran dalam menyusun satu demi satu prangko kecil tersebut dengan tangan besar kita. Atau juga kejelian dalam menyusun tahun demi tahun koleksi. Dan di akhir prosesnya, kita akan mendapati bahwa kita juga bisa mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman dari hobi filateli ini.

Semoga suatu saat kelak, ketika zaman sudah semakin canggih, ketika pengiriman paket tak lagi membutuhkan kurir, melainkan hanya mesin-mesin yang bisa terbang, pada masa itu semoga anak cucu kita tetap familiar dengan benda-benda pos seperti ini, sebagai rekam jejak bahwa benda-benda itu pernah ada di dunia kita.

Buku-buku referensi tentang filateli yang bisa dibaca:

  • Filateli karya Wing Wahyu Winarno terbitan Graha Ilmu (Bahasa Indonesia)
  • The World Encyclopedia of Stamps & Stamp Collecting karya DR. James Mackay terbitan Hermes House (Bahasa Inggris)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This